Hukum Bermain Judi Togel Online Menurut Islam

Hukum Bermain Judi Togel Online – Perjudian (Al-Maisir) memiliki banyak arti dan berasal dari kata yasara (bahasa Arab) yang artinya harus. Harus disini berarti setiap pemainnya wajib memberikan sesuatu kepada pemenang dalam permainan. Yusrun (mudah), ini artinya upaya untuk mendapatkan sesuatunya menjadi lebih mudah, tanpa kerumitan.

Maisir dapat dikatakan sebagai qimary, artinya merupakan taruhan atau kompetisi. Dalam permainan ini akan terjadi kalah dan menang, dimana pihak yang kalah harus memberikan sejumlah uang kesepakatan atau barang kepada pemenang.

Bisa kita simpulkan disini, bahwa Maisir menawarkan jenis perjudian dengan taruhan dengan praktik keberuntungan yang bisa membuat pemain menang dengan mudah tanpa kerja keras. Untuk itu, sekarang kita juga mudah temukan situs judi togel online khususnya togel hongkong yang pasti membutuhkan keluaran hk 6d.

Unsur-Unsur dalam permainan judi

Berdasarkan penjelasan judi di atas, ada tiga unsur yang dikatakan sebagai tindakkan perjudian. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Game atau Kompetisi
  • Terdapat taruhan
  • Keberuntungan

Hukum pidana pemain judi di Indonesia

Judi dalam Pasal 303 (ayat 3) KUHP, dimana telah diubah dalam UU No. 7 tahun 1974 tentang perjudian yang menyatakan permainan apa pun di mana memungkinkan menghasilkan laba pada keberuntungan.

Dari Pasal 1 UU No. 7 tahun 1974 tentang perjudian bahwa semua bentuk kejahatan perjudian adalah pelanggaran pidana. Perjudian pada dasarnya sangat bertentangan dari norma etika, agama, dan moral Pancasila. Dimana dapat membahayakan mata pencaharian dan kehidupan bangsa, rakyat, dan negara.

Keputusan Pemerintah ini yang mengimplementasikan Pasal 3 Undang-Undang tahun 1974 tentang Perjudian. Dimana mengatur larangan perizinan atas semua bentuk perjudian, apakah itu diadakan di casino, di tengah keramaian, atau melalui media online. Larangan izin perjudian juga berlaku di acara olahraga, hiburan, dan kegiatan lainnya selama mereka tidak menjalankan praktek judi.

Pasal 1 (1) Undang-Undang Perjudian No. 7 tahun 1974 yang disebutkan di atas menyatakan bahwa bentuk perjudian mencakup nomor 3, seperti sabung ayam, adu banteng dan sebagainya. Itu tidak termasuk perjudian dengan ketentuan bahwa masih terkait dengan upacara keagamaan dan tidak ada taruhan didalamnya.

Ketentuan tersebut dapat juga mencakup bentuk dan jenis perjudian yang mungkin terjadi di masa depan, asalkan tidak termasuk dalam kategori sebagaimana dimaksud di Pasal 303 (3) KUHP tersebut.

Hukum pidana bagi pelaku judi di Indonesia

Kegiatan perjudian telah dilarang dalam ketentuan pidana Pasal 542 KUHP dan berdasarkan Pasal 2 (4) UU No 7 tahun 1974 tentang perjudian. Tetapi telah mengalami perubahan dan dimasukkan dalam tindak pidana yang diatur oleh Pasal 303 KUHP, karena merupakan pelanggaran berdasarkan ketentuan Pasal 1.

Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 542 KUHP yang sekarang menjadi ketentuan pasal 303 KUHP menyebutkan :

  • Bahwa pelaku judi akan dijatuhi hukuman maksimum satu bulan penjara atau denda maksimum Rp. 300.000 juta rupiah.
  • Siapa pun yang menggunakan kesempatan terbuka untuk bermain judi akan bertentangan dengan ketentuan Pasal 303.
  • Siapa pun yang ikut serta dalam perjudian di jalan umum yang terbuka, kecuali otoritas yang berwenang mengizinkan perjudian.
  • Jika ketika melakukan perbuatan tersebut waktunya masih kurang dari 2 tahun setelah dihukum karena melakukan pelanggaran. Maka pelaku akan dijatuhi hukuman penjara maksimum hingga 3 bulan atau denda maksimal Rp. 500.000 juta rupiah.

Berdasarkan Pasal 2 (4) dan Pasal 1 UU No 7 tahun 1974 tentang perjudian, Pasal 303 KUHP memberikan hukuman pada pelaku judi sebagai berikut :

Dihukum maksimal 4 tahun penjara atau hukuman maksimum Rp 10.000.000 juta rupiah.

Jika, pada saat melakukan pelanggaran, pelaku telah dihukum karena pelanggaran dengan kekuatan hukum tetap dalam waktu dua tahun karena melakukan salah satu dari pelanggaran ini, maka pelaku akan dijatuhi hukuman penjara maksimal 6 tahun atau Rp. 15.000.000 juta rupiah.

Di bawah syari’at Islam, kegiatan perjudian dapat dihukum uqubat (hukuman) dalam bentuk cambuk hingga 12 kali dan setidaknya 6 kali, dengan denda maksimum Rp. 35.000.000.000 juta rupiah atau setidaknya Rp. 15.000.000 juta rupiah. Itu akan menjadi pendapatan daerah dan dibayarkan langsung ke Baitul Mali.

Bagi orang yang taat hukum harus, sebaiknya sejauh mungkin menghindari judi. Karena judi tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi orang lain. Bermain judi juga sangat bertentangan dengan norma agama dan moral. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa hukum perjudian dapat masuk ke tindakkan pidana dan membuat pelakunya bisa masuk penjara.